Mengenal Rumah Adat Sumatera Selatan

Mengenal Rumah Adat Sumatera Selatan

Kota Palembang ialah ibu kota dari provinsi Sumatera Selatan. Palembang adalah kota paling besar ke-2 di Sumatera sesudah Medan.

Riwayat Palembang yang sempat jadi ibu kota kerajaan bahari Buddha paling besar di Asia Tenggara saat itu, Kerajaan Sriwijaya, yang menguasai Nusantara serta Semenanjung Malaya pada era abad ke-9 ikut membuat kota ini diketahui banyak orang dengan julukan “Bumi Sriwijaya”.

Berdasarkan sebuah prasasti Kedukan Bukit yang diketemukan di Bukit Siguntang samping barat Kota Palembang, yang mengatakan pembentukan suatu wanua yang ditafsirkan menjadi kota pada tanggal 16 Juni 682 Masehi, membuat kota Palembang menjadi kota paling tua di Indonesia. Pada dunia Barat, kota Palembang ikut dijuluki Venice of the East (“Venesia dari Timur”).

Rumah adat Palembang seringkali dikatakan sebagai Rumah Limas yang terkenal dengan ciri khas model rumah klasik. Rumah berupa limas dengan bangunan yang bertingkat. Tingkat itu sering dikatakan sebagai bengkilas. Luas rumah dimulai dari 400-1000 meter persegi. Bahan material untuk membuat dinding, lantai, dan pintu memakai kayu tembesu. Sementara untuk tiang rumah, biasanya memakai kayu unglen yang tahan air. Rangka rumah umumnya dibikin dari kayu sengit, yang menurut keyakinan penduduk sekitar tidak boleh diinjak/dilangkahi.

Tingkatan dalam rumah ditambahkan dengan lima ruang yang dimaksud kekijing. Pada tingkat pertama yang dimaksud pagar tenggalung, ruang ini tidak mempunyai dinding pembatas, seperti teras saja. Ruangan ke-2 disebut Jogan, dipakai menjadi tempat pertemuan khusus untuk pria. Naik kembali ke ruangan ke-3 yang dinamakan kekijing ke-3, yang tempat lantainya tambah tinggi serta diberi batas atau penyekat. Ruangan ini umumnya untuk tempat terima beberapa undangan pada suatu acara atau hajatan, terpenting yang telah separuh baya.

rumah klasik

Bergerak ke kekijing ke empat, istilah untuk ruangan ke empat, dengan posisi tambah tinggi lagi. Begitupun dengan beberapa orang yang dipersilakan untuk mengisi ruang ini juga mempunyai jalinan kekerabatan lebih dekat serta dihormati, seperti undangan yang lebih tua, dapunto, serta datuk. Untuk ruangan ke lima yang mempunyai ukuran terluas disebut gegajah. Didalamnya ada ruangan pangkeng, amben tetuo, serta danamben keluarga.

Di bagian dalam rumah umumnya ditambahkan dengan ukiran-ukiran yang memiliki kandungan makna menyangkut kehidupan kebiasaan adat istiadat setempat dan untuk memperkuat arsitektur rumah klasik pada rumah adat tersebut. Di bagian atap ada ornament berupa simbar serta tanduk. Simbar itu berhiaskan Melati, yang melambangkan mahkota yang bermakna kerukunan serta keagungan rumah adat ini dengan arsitektur rumah klasik.

Post Author: Thicas Cantika